PELARANGAN RIBA DALAM BEBERAPA AGAMA

Ternyata Islam bukan satu-satunya agama (atau agama yang pertama) yg melarang BUNGA atau RIBA.

Agama Kristen, khususnya melarang pemungutan Bunga selama lebih dr 1.400 tahun. Dalam perjanjian Baru ada 3 rujukan tentang pelarangan riba, sedangkan di perjanjian lama ada 4. Salah satunya;

"Jika engkau meminjamkan uang kepada siapa saja dari umatku yg miskin, janganlah engkau menjadi pemungut riba (usury) baginya, jangan juga engkau membebankan riba padanya. (Eksodus 22:25)

Di India Kuno, hukum yg berdasarkan Weda, kitab suci tertua agama Hindu, mengutuk riba sbg sebuah dosa besar dan melarang operasi Bunga (Gopal,1935;Rangaswani, 1927).

Dalam Agama Yahudi, Kitab Taurat (bahasa Yahudi untuk hukum Musa atau Pentateuch, Lima kitab pertama Perjanjian Lama) melarang riba di kalangan bangsa Yahudi.

Tetapi islam satu-satunya agama besar yg mempertahankan pelarangan riba, -kullu zaman wa makan- (Q.S. 2:275-278; 3:130; 4:161; 30:39)

"Yang Haram Aja Sulit, Apa lagi yg Halal"

Banyak orang menyepelekan atau bahkan tidak pernah peduli apakah makanan atau hasil yang diusahakannya halal atau haram dan demikian juga cara mendapatkannya? Apalagi dizaman sekarang ini, penipuan, dusta, pemalsuan dan pencurian menjadi salah satu senjata utama memperoleh uang, dengan dalih yang penting bisa makan dan desakan ekonomi. Kalau sudah demikian adanya bisakah diharapkan do’a kita dikabulkan dan diterima Allah? Kalau sudah tidak diterima lagi do’a kita, maka kita kehilangan satu senjata pamungkas menuju kejayaan umat islam, sebab do’a adalah senjata kaum mukminin. Lihat berapa banyak kemenangan kaum muslimin dimasa Rasululloh, salah satu sebab utamanya adalah do’a!

Oleh karena itu, jika sebagian orang heran dan bertanya-tanya, ”Mengapa kita belum mendapat kemenangan? Mengapa kita memohon kepada Allah dan merendah diri kepada-Nya agar Ia berkenan melapangkan kesusahan yang menimpa kaum Muslimin, serta menghancurkan orang-orang zhalim, namun tidak terkabulkan? Ia heran, bagaimana dan mengapa?!

Kemungkinan jawabannya adalah kelalaian kita dalam mencara makanan yang baik dan usaha kita yang baik. Sebab Rasululloh SAW bersabda:

“Sesungguhnya Allah Ta’ala itu baik,tidak menerima kecuali yang baik,dan bahwa Allah memerintahkan kepada orang-orang mukmin dengan apa yang diperintahkannya kepada para rasul dalam firman-Nya,”Hai rasul-rasul,makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal shaleh .Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (al-Mu’minun: 51). Dan Ia berfirman, “Hai orang-orang yang beriman,makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu”, (al-Baqarah: 172). Kemudian beliau menyebutkan seorang laki-laki yang kusut warnanya seperti debu mengulurkan kedua tangannya ke langit sambil berdo’a: Ya Rabb,Ya Rabb, sedang makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, ia kenyang dengan makanan yang haram, maka bagaimana mungkin orang tersebut dikabulkan permohonannya?!”1.

dalam hadits ini Rasululloh menjelaskan bagaimana kondisi seseorang yang bepergian dalam kondisi kusut masai dan mengangkat kedua tangannya merendahkan diri untuk meminta kepada Allah dikabulkan do’anya, namun do’anya ditolak karena makanan, pakaian dan minumannya haram.

Oleh karena itu seorang ulama besar bernama Yusuf bin Asbath berkata, ”Telah sampai kepada kami bahwa do’a seorang hamba ditahan naik ke langit lantaran buruknya makanan (makanannya tidak halal)”5. demikian juga sahabat yang mulai Sa’ad bin Abi Waqqas yang terkenal memiliki do’a mustajab, ketika ditanya mengenai sebab do’anya diterima; beliau berkata,”Aku tidak mengangkat sesuap makanan ke mulutku kecuali aku mengetahui dari mana datangnya dan dari mana ia keluar”

"Ya Allah, wahai Zat Yang Maha Kaya, wahai Zat Yang Maha Terpuji, wahai Zat Yang Memulai, wahai  Zat Yang Mengembalikan, wahai Zat Yang Maha Penyayang, wahai Zat Yang Maha Pengasih. Cukupilah kami dengan kehalalan-Mu dari keharaman-Mu. Cukupilah kami dengan anugerah-Mu dari selain-Mu.
Aamiin.....

Ahad, 16 April 2017

Kegembiraan terpancar dari raut wajah anakku tercinta "Auliya", penyebabnya adalah ia mendapatkan hadiah mukena baru dari mamahnya. Ya, sore itu memang isteriku baru saja pulang dari tanah abang mencari beberapa potong pakaian pesanan untuk di jual kembali.
Senyum bibir Auliya merona ketika ditunjukan setelan mukena frozen warna pink dan tak ayal ia pun meminta untuk segera dipakaikan. Ku keluarkan HP dan ku ambil beberapa gambarnya, Layaknya seorang model ia beberapa kali berpose dengan sedikit memiringkan kepalanya dengan senyum menyungging di bibirnya.

Tak terasa waktu shalat maghrib pun tiba, ku siapkan diri untuk melaksanakan shalat berjamaah. Ku ajak auliya ikut berjamaah, tidak seperti biasanya ketika diajak untuk sholat, ia kerap kali menjawab "ma mau - (enggak mau)" atau kalaupun mau ia hanya merecoki ku sholat, mulai tiduran di sajadah atau naik ke pundakku saat ku sujud, tapi kali ini ia begitu antusias karena mungkin tak sabar untuk mengenakan mukena barunya.

Ku pakaikan setelan mukena forzen di tubuhnya, dan ku pasang kamera handphoneku tepat di depan kami berjamaah, bermaksud agar bisa ku lihat kembali gerakan dan tingkahnya saat melaksanakan​ sholat.

Sholatpun ku mulai hingga selesai, tak ada gerakan-gerakan akrobat seperti biasanya yang ia lakukan dikala kami sholat, kali ini ia khusuk mengikuti setiap gerakan yang ku pimpin mulai dari takbir hingga salam, mulutnya pun berkomat-kamit seakan membaca doa saat ku lihat dalam tayangan video yang ku rekam.

Hatiku bahagia tak terhingga, di usianya yang belum genap 2 tahun, ia sudah mulai bisa belajar sholat berjamaah dan mengerti gerakan-gerakan sholat. Ternyata selama ini ia memeperhatikan dan menghafal apa yang kami lakukan.

Perjalanan masih panjang, contoh dan teladan yang baik merupakan bimbingan baginya untuk menjadi pribadi yang shalih.

Doa yang selama ini ku panjatkan agar Allah jadikan anak-anaku menjadi pribadi yang shalih-shalih.
ربّ هب لي من الصالحين
Aamiin