SANG BILAL DARI BUMI NUU WAAR

Pancaran sinar sang surya, tampak malu-malu untuk menembus jalan- jalan kota, tidak seperti biasanya, panas tak menyengat memekakan mata. Namun langit hari ini nampak teduh dan berawan. Tiupan angin seakan memeluk daun-daun yang melambai dan menghembuskan udara yang menyejukkan.

Langkahku penuh semangat menuju sebuah tempat peraduan, bukan untuk melantunkan panggilan Adzan di Masjid Al Muamalah yang biasa ku lakukan, Namun kali ini, semangatku muncul karena ada rasa kerinduan yang tak tertahankan. Rindu kepada seseorang yang sejak lama ku nantikan dan selama ini hanya dalam angan karena jauh dalam jangkauan.
Dialah seorang tokoh perubahan, tokoh yang ku anggap seperti seorang Bilal Bin Rabbah yang datang datang dari bagian Timur Negeri Ini.

Dialah Ustad Fadzlan Garamatan yang telah mengislamkan sekitar 220 suku di papua dengan berdakwah ke daerah pelosok Desa di Bumi Nuu Waar (Papua). Ya, seorang yang begitu ku kagumi dan ku baca kisah dan beografinya melalui harian republika. Beliau hadir untuk memberikan khutbah di masjid Al-Muamalah Bank Muamalat Indonesia tercinta.

Ku pacu langkahku dan mencari shaf-shaf yang mulai dipenuhi oleh jama'ah shalat Jum'at. Ku'ambil posisi di depan Khotib, tepat di baris ke tiga agar ku bisa menatapnya lebih leluasa.

Seorang berbadan tegap, berkulit legam dengan dipenuhi bulu lebat di sekitar janggutnya, duduk bersimpuh di shaf pertama. Yakinku, dialah saudara seimanku, yang Allah telah berikan kehormatan dan pengetahuan, Ustad Fadlan Garamatan.

Masih di Shaf yang sama tepat berada di sampingnya Seorang ulama Panutan yang sudah tidak asing bagiku, Ustad Arifin Ilham menemaninya. Ya Allah, dua orang yang mulia sungguh berada di antara kami, bersilaturami menjalin komunikasi, saling berbagi dan menasihati agar tetap menjadi pribadi yang islami.

*********

Waktu adzan telah tiba, Ustad Fadlan pun memulai khutbahnya, suara lantang dan fasih dengan nada kental ala Bumi Papua keluar dari lisannya yang penuh sajak nan menawan menggetarkan hati. Ku tatap wajahnya yang selalu menyunggingkan senyum merona. Namun seketika ia membawa fikiranku menerawang jauh tentang seorang Sahabat Rosulullah, Sang Muadzin Billah Bin Rabbah, salah satu sahabat yang paling Ku Kagumi yang memiliki suara indah nan merdu. Sahabat yang setiap kali ku baca riwayatnya selalu membuatku meneteskan air mata akan perjuangannya. Terlebih ketika beliau menyatakan untuk tidak lagi adzan sepeninggalan rosulullah saw karena ketidak-kuasaannya bila mengingat kenangan-kenangan indah berjamaah bersama Rosulullah saw. Tak terasa air mata membasahi pipiku, Aku pun menangis, terus menangis di tengah khutbah Ustad Fadlan yang membuat orang terkesima tentang "Keadilan di Negeri ini". Ku masih membayangkan kedua pejuang islam ini. Perjuangan, dedikasi serta integritas terhadap agama ini sungguh sangat memmbuat siapapun terkagum-kagum dan iri dibuatnya.

Jika Sayyidina Bilal pernah disiksa bahkan hampir di bunuh oleh kaum kafir Quraish, demikian juga Ustad Fadlan dalam dakwahnya. Tombak, panah, diusir, adalah hal yang biasa menimpanya. Namun beliau selalu sampaikan kepada murid-muridnya agar tombak itu dijadikan shiraathal-mustaqiim. Kalau dipenjara, jadikan itu sebagai rumah surga awal. Jika difitnah, itu adalah untaian hidup dan puisi barunya. Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam saja dilempari, dicaci-maki, difitnah, tapi beliau terus menebarkan senyum ucapnya, Subhanallah!

Hingga sampai Ku larut dalam doanya, ku masih meneteskan air mata.

Ya Rabb, berikanlah kekuatan, kesehatan serta keistiqmahan kepada ulama-ulama kami agar mereka terus bisa mengajarkan kami, menasihati kami dan menunjukan kami senantiasa di dalam  ajaran-Mu. Jagalah rasa cinta kami kepadaMu, Jaga cinta kami kepada-Nya, agar kami dapat menapaki hidup ini dalam jalan lurus-Mu.

Aamiin.

Al Faqir - Zuel Fahmi Musa

RUMAH KEONG DAN RUMAH KITA



Cengkling… cengkling… cengkling…,
Suara handphoneku berdenting, Ku tengok, ada beberapa pesan whatsapp yang masuk beruntun membuyarkan fikiran.
Ku hentikan jemariku yang sedari tadi mengetik laporan. Ku buka pesan itu, ternyata ada 7 foto masuk yang dikirimkan oleh isteriku, memang sengaja ku atur pesan foto atau video yang masuk tidak terunduh otomastis.

Penasaranku muncul…. Foto pertama langsung ku unduh.
Foto sebuah Cangkang Bekecot (Keong Racun), ya… hanya foto cangkang bekecot.

“Untuk apa foto itu dikirim kalo cuma cangkang bekecot, ngabisin kuota aja”, gumamku dalam hati. Belum selesai ku menaruh hp, masuk pesan dari isteriku

“Pah, Cangkang Bekicot”.
“Aku juga tau”. jawabku hatiku.
“Isinya…. KEONG LAUT, Ku temukan di depan rumah!!” Ucapnya dalam pesan berikutnya.

Ku terkejut penasaran, segera ku unduh gambar berikutnya. Ternyata benar, Seekor keong laut yang biasa ku beli sewaktu ku masih sekolah SD, Keong yang biasa ku gunakan panas nafas dari mulut untuk mengeluarkannya dari cangkang, entah karena panas nafasku atau bau mulutku yang membuatnya keluar. Hihihi…. J

Ku tersenyum dan sejenak berfikir. Kok bisa ya? Itupun yang ditanyakan sama isteriku.

“Pah kok bisa ya??”
“Mungkin karena si keong tertarik sama cangkangnya si bekecot makanya dia pake” jawabku sekenanya.

Bagaimana caranya apakah ditake over, over kredit, tukar guling atau si bekecot dibegal sama si keong laut, entahlah yang jelas si keong laut memakai cangkang bekecot. J

Sahabatku yang baik….
Cerita di atas hanyalah sebuah prolog yang baru saja saya alami, kemudian terlindas dalam fikiran saya tentang sebuah hunian baru sang keong laut. Dalam benak saya, keong laut ini mungkin bosan dengan rumah yang dia pakai selama ini, dia mengidamkan sebuah konsep hunian yang tidak biasa digunakan oleh keong laut umumnya, sehingga dia berfikir keras bagaimana dia keluar dari zona biasa atau umum.

Nah, ketemulah hunian keong bekecot jadi solusi.

Kenapa dia mesti pakai cangkang atau hunian keong bekecot??? Jawabannya adalah kalau dia pakai cangkang kura-kura pasti tidaklah kuat dia bawa. Hihihihi…

Kembali bicara masalah hunian…

Sahabatku yang baik…
Memiliki hunian yang bagus, indah nan megah adalah idaman setiap manusia (bukan cuma keong laut). Mungkin ada di atntara kita yang merencanakan, mendesign, membangun dan menjadikan rumah kita laksana sebuah istana. Hunian dua lantai, dengan pelataran yang dipenuhi tanaman dan taman, kolam renang membujur rapi dibelakang, serta ruang tamu, kamar tidur, kamar mandi serta dapur yang nyaman. Setiap orang pasti akan terkesima melihatnya. It’s amazing kawan……!!!

Sehingga hunian kita selaras dengan moto:

 “Baiti Jannati” Rumahku adalah Surgaku.


Namun, Kawan…. 
Benarkarkah rumah kita sudah seperti surga bagi kita? Atau jangan-jangan hanya layaknya kuburan di mata Allah Azza wa Jalla???
Jangan jadikan rumah kita seperti kuburan. Bagaimanakah rumah yang seperti kuburan itu? Rumah tersebut tidak pernah dikerjakan shalat di dalamnya, baik shalat wajib maupun sunnah. Rumah tersebut selalu lalai dari bacaan Al Qur’an. Itulah rumah yang seperti kuburan. Megah hanya bangunan, Mewah hanya hiasan. Namun di mata Allah sungguh rumah itu hanya sebuah kuburan.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِى تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ

Janganalah jadikan rumah kalian seperti kuburan karena setan itu lari dari rumah yang didalamnya dibacakan surat Al Baqarah.” (HR. Muslim)

Sahabat Anas ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah memerintahkan kita untuk menerangi rumah kita dengan membaca Al-Qur’an.
نَوِّرُوْا بُيُوْتَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ

Hendaklah kamu beri nur (cahaya) rumahmu dengan shalat (sunnah) dan membaca Al-Qur’an. (HR Baihaqi)


Maka…
Jadikanlah rumah kita megah nan Indah, yang disinari dengan cahaya al-qur’an, yang di dalamnya selalu dijadikan tempat sholat dan berzikir. Yang senantiasa akan memberikan rahmat dan kebaikan bagi kita yang menghuninya.


Amiin…..

JIKA KALIAN TAK MENEMUKANKU DI SURGA

Suatu hari Ibnul Jauzi berpesan kepada para sahabat nya, bukan sebuah pesan biasa yang layaknya beliau ucapkan, namun sebuah pesan yang begitu berkesan, beliau berkata;

ان لم تجدوني في الجنة بينكم فاسألو عني ، وقولوا : يا ربنا عبدك فلان كان يذكرنا بك

"Jika kalian tidak menemukanku di surga, maka tanyakanlah tentang aku kepada Allah. Ucapkanlah :"Wahai Rabb, Hambamu Fulan, dulu pernah mengingatkan kami untuk mengingatmu".

Wahai sahabatku fillah...
Pesan yang mampu menembus relung-relung hati bagi siapa pun yang mendengarnya. Pesan yang membuat tubuh ini lunglai tak bertenaga. Pesan yang mampu membuat mata berka-kaca hingga meneteskan butiran cairan dari pojok pelupuk mata. 

Sahabatku...
Ternyata Ibnul Jauzi telah merenungi akan hadits Baginda Rosulullah Saw. Di dalam hadis yang panjang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang syafaat di hari kiamat,

حتى إذا خلص المؤمنون من النار، فوالذي نفسي بيده، ما منكم من أحد بأشد مناشدة لله في استقصاء الحق من المؤمنين لله يوم القيامة لإخوانهم الذين في النار، يقولون: ربنا كانوا يصومون معنا ويصلون ويحجون، فيقال لهم: أخرجوا من عرفتم، فتحرم صورهم على النار، فيخرجون خلقا كثيرا قد أخذت النار إلى نصف ساقيه، وإلى ركبتيه، ثم يقولون: ربنا ما بقي فيها أحد ممن أمرتنا به، فيقول: ارجعوا فمن وجدتم في قلبه مثقال دينار من خير فأخرجوه، فيخرجون خلقا كثيرا، ثم يقولون: ربنا لم نذر فيها أحدا ممن أمرتنا…

Setelah orang-orang mukmin itu dibebaskan dari neraka, Demi Allah, Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian begitu gigih dalam memohon kepada Allah untuk memperjuangkan hak untuk saudara-saudaranya yang berada di dalam neraka pada hari kiamat. Mereka memohon: Wahai Tuhan kami, mereka itu (yang tinggal di neraka) pernah berpuasa bersama kami, shalat, dan juga haji.

Kemudian Allah berfirman: ”Keluarkanlah (dari neraka) orang-orang yang kalian kenal.” Hingga wajah mereka diharamkan untuk dibakar oleh api neraka.
Para mukminin inipun mengeluarkan banyak saudaranya yang telah dibakar di neraka, ada yang dibakar sampai betisnya dan ada yang sampai lututnya.

Kemudian orang mukmin itu lapor kepada Allah, ”Ya Tuhan kami, orang yang Engkau perintahkan untuk dikeluarkan dari neraka, sudah tidak tersisa.”

Allah berfirman, ”Kembali lagi, keluarkanlah yang masih memiliki iman seberat dinar.”

Maka dikeluarkanlah orang mukmin banyak sekali yang disiksa di neraka. Kemudian mereka melapor, ”Wahai Tuhan kami, kami tidak meninggalkan seorangpun orang yang Engkau perintahkan untuk dikeluarkan…”

Wahai sahabat...
Sungguh bahagia diri ini mengenal diri kalian dalam dunia nyata maupun dunia maya. Saling berbagi tulisan, mengajak kepada kebaikan. Nasihat-menasihati di dalam kebenaran dan kesabaran.
Sungguh Imam Hasan al-Bashri telah memberi nasihat kepada kita semua;

استكثروا من الأصدقاء المؤمنين فإن لهم شفاعة يوم القيامة

”Perbanyaklah berteman dengan orang-orang yang beriman. Karena mereka memiliki syafaat pada hari klamat.”

Sahabatku yang baik dan shalih...
Dengan diiringin, tetesan air mata, ingin ku ucapkan sebuah pesan sama pada kalian

"Jika Kalian tak menemukanku di surga, tanyakan pada Allah akan diriku..."

UKIR SEHARAH HIDUPMU

Menapaki kehidupan ini, ada banyak hal yang terlalu sulit untuk kita ingat dan tidak sedikit pula yang tidak mudah dilupakan. Semua episode laksana lembaran kertas yang kosong yang kemudian kita tuliskan dalam tinta-tinta emas kehidupan.

Kehidupan adalah sebuah sketsa yang kita bentuk, kita uraikan dan kita rasakan. Jejak-jejaknya akan menentukan akhir dari sebuah lukisan hidup kita. Betapa indahnya jika kita mulai mengukirnya dalam sebuah gambar yang indah dan menawan.

Sebuah kenangan yang indah akan terpatri dalam lubuk hati, jika kita mewariskan sejarah yang mengesankan. Kenangan hidup yang manis akan meninggalkan jejak yang tak kan pernah terlupakan. Maka tentukan dan lukiskan sejarahmu...!! Sejarah yang baik -Khusnul Khatimah- atau sejarah yang buruk -Su'ul Khotimah-

"Ya Allah biha bihusnil Khatimah"

LET'S CHANGE OUR MINDSET

Sahabat..
Tak jarang, tatkala kita berdoa, kita kerap kali meminta agar diberikan rezeki yang banyak dan barokah. It's very good, friends..!!
Karena bnyak di dalam Alquran dan hadits yang mengajarkan kita untuk itu.

Tapi terkadang kita terjebak oleh "pola fikir" yang sempit, sifat keduniaan yang menempel di hati kita yang membuat diri kita mengartikan rezeki dalam arti yang sangat dangkal, terbatas hanya pada "materi" saja. Ya, secara tidak langsung kita sadari atau tidak, fenomenanya seperri itu.

Oooo My Dear Friends....
Lets, Change Our Mindset!!!

Rezeki tidak terbatas pada uang atau makanan saja. Rezeki Allah amatlah luas, friends...
Teman-teman yang baik dan ketenangan hati merupakan rezeki. Tidur nyenyak dan tinggal di rumah yang melindungimu dari meminta-minta merupakan rezeki. Pemandangan yang indah dan aroma parfum yang mengundang semangat adalah rezeki. Istri dan anak-anak yang mencintaimu merupakan rezeki. Orang-orang di sekitarmu yang sabar dengan segala kekuranganmu merupakan rezeki. Kata-kata indah yang anda baca, Kelembutan ibu dan ayah, Anda menangis di pundak orang yang dicintai, majelis yang menghilangkan beban pikiran, orang-orang sekitarmu yang menghormatimu, senyuman anak kecil, hadiah dari sahabat, itu semua merupakan rezeki. Semua yang kita miliki adalah rezeki dari Allah.

Sadarilah dan Syukuri itu.....!!!

"Ya Allah Ya Rabb engkaulah pemilik langit dan bumi serta isinya, berilah rezeki untuk kami berupa ridha-Mu ya Allah, Engkau sebaik-baik Pemberi Rezeki. Puji dan syukur hanyalah milik-Mu Ya Allah”.

HIDUP LAKSANA BAN

Kawanku yg baik...
Pernahkah anda mengalami ban kempes baik itu motor atau mobil? Tentu laju kendaraan anda tidak akan maksimal, terlebih jika ban tersebut bocor, maka bisa dipastikan kendaraan anda tidak akan mampu dijalankan.
Ya, sebuah ban memerlukan angin atau udara, untuk memaksimalkan kinerjanya demi mendapatkan tekanan untuk melajukan kendaraan.

Saudaraku...
Terkadang hidup kita ini seperti ban, di saat dia kencang penuh terisi dengan angin. Kita mampu melaju dengan cepat; target yang begitu banyak mampu kita capai, hasil yang mengagumkan berhasil kita torehkan. It's amazing kawan...

Tapi.... Kawan...
Adakalanya kita jumpai kehidupan kita layaknya ban yang kempes atau bahkan bocor. Ada masa stagnansi atau berjalan di tempat alias tidak berjalan sama sekali. Bisnis yang mandek, kinerja yang menurun dan lain sebagainya yang menyebabkan apa yang kita cita-citakan menjadi terhambat.

Saat itulah kawan, anda memerlukan angin...
Angin yang bisa memberikan tekanan kepada anda, angin yang memompa adrenalin anda, angin yang bisa memacu anda untuk melaju dengan cepat.

Apakah itu?
Jawabannya pada anda sendiri....
Entah anak, isteri, ayah, ibu atau apa pun bisa kita jadikan angin penyemangat hidup ini.

Wallahu a'lam...

TERUNTUKMU BIDADARI KECILKU

Letihku malam ini terhapus oleh canda ceria malaikat kecilku. Celotehan, tawa dan gerak lepasnya membuat hati yang beku ini mencair. Hidup menjadi seolah tanpa beban, tanpa masalah. Kehadirannya di sisiku memberikan kesejukan yang begitu dalam, laksana negeri tandus yang disirami hujan seharian. Memberikan peluang untuk sebuah kehidupan.

Ada satu hari di penghujung malam, di dalam kesunyian dan kegelapan, ketika ku tunaikan sebuah panggilan, penuh khusuk dan terbawa oleh lantunan. Seorang bidadari kecil menghampiriku, duduk bersimpuh di atas pangkuanku.

Tiada menangis, tiada merajuk seperti biasa. Seakan ingin ikut bersama dalam untaian doa. Sungguh sebuah nikmat yang tiada terkira. Semoga Allah jadikannya, seorang anak yang shalihah.

Syukurku ucapkan kepadaMu ya Rabb atas amanah yang Engkau berikan. Berikanku kekuatan untuk mendidik dan memberikan yang terbaik untuknya.

Untukmu, anakku...
Auliya Alfiyatuz Zahra.....

MAAFKAN IA JIKA TERLALU DIAM

Kediam-annya bukan sebuah keacuhan terhadap lingkungan. Mungkin hanya sebuah kesulitan baginya memulai sebuah pembicaraan. Bahkan barangkali malu, ragu dan khawatir apa yang ia sampaikan akan menyinggung perasaan. Jadi jangan tuntut ia untuk sebuah perubahan, karena mungkin dengan cara lain ia ingin menyampaikan.

Kediam-annya juga bukan berarti ia tak mampu, mungkin hanya memberikan pengertian dan kesempatan untuk menunjukan apa yang mereka mau. Disaat orang lain tak sanggup untuk mengerti namun hanya ingin dimengerti. Ia hadir memberikan sebuah pengertian itu.

Kediam-annya pula bukan berarti ia tak berpotensi, mungkin ia hanya ingin merendahkan hati, disaat sebagian orang saling mununjukan kebolehan, mencari muka demi sebuah pengakuan. Di kala mereka saling sikut-sikutan demi sebuah posisi dan jabatan. Ia cuma berusaha melapangkan hati, mencoba terus berkreasi meski tak jarang makan hati. Padahal segala cobaan mampu ia lewati.

Tapi..
Sungguh dibalik kediamannya,
ia hanya berusaha untuk menjaga sebuah kesantunan
Ia hanya berusaha untuk menjaga sebuah lisan.

Jadi..
biarkanlah ia dengan kesantunannya. biarkanlah ia menjaga lisannya.
biarkan ia dengan caranya....

Sekali lagi maafkan ia jika terlalu diam...

KESUNGGUHAN MENGENDALIKAN HATI

Sahabat....

Betapa terkesannya ketika dapat meluluhkan dan menundukkan hati atasan...
Alangkah menawannya ketika anda dapat menawan hati sang pujaan...
Sungguh gagahnya anda ketika mampu menaklukan lawan...

Namun betapa sulitnya ketika menaklukan hati sendiri... Menaklukan hati agar tunduk dan tunduh kepada Ilahi rabbi...

Sufyan ats-Tsauri berkata :

مَا عَالَجْتُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيَّ مِنْ نَفْسِي مَرَّةً لِي وَمَرَّةً عَلَيَّ

"Aku tidak pernah membenahi suatu hal yang lebih berat dibanding jiwaku sendiri. Kadang kala patuh dengan keinginanku dan sering pula tidak.”

Hati, walau terletak dalam dada, namun tidak mudah untuk menundukkannya. Butuh usaha yang kuat, keinginan yang  kokoh serta azm yang tangguh untuk menjadikan "hati" ini selalu tunduk dan tunduh kepada Sang Ilah...

Ya Allah, Engkaulah Sang Maha Pembolak-balik hati, tetapkanlah hati kami di atas ketaatan kepada-Mu. Amiin.

MENGGGAPAI SUKSES DUNIA, MERAIH BAHAGIA AKHIRAT

Sahabatku yang baik...

Sungguh Allah telah menggariskan bahwa kehidupan manusia bukan hanya sekali, melainkan dua kali. Kehidupan dunia yang fana sebagai awal dari kehidupan dan akan dilanjutkan dengan kehidupan akhirat yang kekal abadi selamanya. Sukses Anda di dunia belum tentu berkelanjutan hingga di akhirat. Namun sebaliknya, sukses di akhirat menjadikan Anda lupa akan kegagalan selama hidup di dunia. Apalagi bila Anda ternyata hidup di dunia sukses dan akhirat pun berhasil. Tapi sungguh celaka ketika anda sengsara di dunia, sengsara juga di akhirat. Wal iyadzu billah...

Ada sebuah nasihat yang baik buat kita agar kita bisa memberikan keseimbangan hidup dalam meraih ke duanya;

اعمل لدنياك كأنك تعيش ابدا و اعمل لأخرتك كأنك تموت غدا

"Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu hidup selamanya, dan beramal-lah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok"

Meraih kesuksesan dunia dengan bekerja keras dan bekerja cerdas namun tak lepas untuk merengkuh keberhasilan akhirat dengan mengingat kematian yang memacu kita untuk semangat beribadah, ada nilai kesemimbangan untuk menggapai kesuksesan dunia dan juga merengkuh keberhasilan akhirat.

Inilah merupakan refleksi dari doa yg sering kita baca:

ربنا اتنا في الدنيا حسنة و في الأخرة حسنة وقنا عذاب النار

"Ya Rabb berikanlah kami kesuksesan di dunia, kesuksesan di akhirat dan jagalah kami dari siksa api neraka"

Semoga bermanfaat

KATAKANLAH!! AKU BANGGA MENJADI ORANG ASING

Ada sebuah cerita tentang seorang sahabat yang baru saja hijrah, yg berjuang meninggalkan dari masa kelamnya, mencoba beristiqomah ke jalan islam yang kaffah.
Ketika ia hendak melaksanakan shalat maghrib berjamaah, dengan mengenakan baju muslim putih bersih, dengan setelan kain warna senada, sehelai surban melingkar di lehernya, peci hitam menutupi kepalanya dan semerbak harum merona dari tubuhnya, ia langkahkan kakinya menuju masjid yang tak jauh dari rumahnya.

Di tengah perjalanannya, ia bertemu dengan seorang ibu yang sedang menyuapi anaknya di jalan. Sambil berkata "Tumben rapih amat, setelan putih, pake sorban, wangi banget lagi, mau kemana?? Kaya pak ustadz aja!!"

Mendengar perkataan si Ibu, sahabat kita hanya tersenyum, meski rasa dalam hati agak kesal.

Esok hari ia mengadukan perihal tersebut kepada temannya akan keanehan zaman dewasa ini, bahwa hal yg sangat wajar dibilang aneh, sebaliknya hal aneh dibilang wajar. Bagaimana tidak, di waktu maghrib di saat waktunya untuk menunaikan ibadah shalat maghtib berjamaah, yang disunatkan untuk menggunakan pakain yg baik dan wewangian malah terkesan aneh bin asing, sementara dia sendiri yang nyuapin makanan di waktu yang asing malah jadi kewajaran.

Sahabat ku....
Itu mungkin salah satu contoh dari banyak kejadian yang ada di tengah-tengah kita. Ketika seorang muslim yang menjalankan kewajibannya, menunaikan kesunnahan yang dijarkan oleh Rosulnya, kerapkali dicap aneh dan asing di tengah-tengah yang notabene nya muslim juga. Mereka yang yang berusaha menutup auratnya, dianggap hal yang tabu, mereka yang berjuang mempertahankan kehormatannya dianggap gak zaman. Itulah fenomena saat ini.

Sahabatku yang asing....
Bangga dan berbahagialah engkau menjadi yang asing....

Sebab,
Baginda rosul telah memberikan sebuah kabar gembira itu:

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu.”

Nabi shallallahu alaihi wasallam mengabarkan bahwa sebagaimana Islam awalnya datang dalam keadaan asing di kalangan kaum musyrikin Makkah, maka demikian pula dia akan kembali menjadi asing bahkan di kalangan penganut agama Islam itu sendiri. Bahkan hadits ini menunjukkan keutamaan dan orang yang berpegang teguh dengannya. Hadits ini juga tidak menunjukkan orang yang berpegang teguh dengannya akan mendapatkan kesempitan dan kejelekan di dunia dikarenakan mereka terasingkan, akan tetapi justru hadits ini menunjukkan bahwa dia adalah manusia yang paling berbahagia, sebagaimana yang tersebut di akhir hadits,“Maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu.”

Hal itu karena keadaan dan posisi dirinya sama persis dengan pendahulu umat ini yang mengikuti ajaran Islam ketika Islam pertama kali muncul dan dianggap asing oleh manusia. Dia adalah manusia yang paling berbahagia di dunia dalam keterasingan dan gangguan yang dia terima, karena Allah Ta’ala memberikan ke dalam hatinya kelapangan dan keluasan yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia, kecuali oleh mereka yang juga sejalan dan senasib dengannya. Ini bentuk keberuntungan mereka di dunia. Adapun di akhirat, maka mereka adalah manusia yang paling tinggi derajatnya setelah para nabi alaihimussalam.

Semoga Allah jadikan kita termasuk orang-orang yang asing, yang berpegang teguh dan setia dengan dinulhaq "islam" sampai akhir hayat.

"Dan janganlah sekali-kali kalian mati kecuali dalam keadaan muslim"

Semoga bermanfaat...

MUTIARA TETAPLAH MUTIARA, KAWAN!!


Sahabatku...
Suatu ketika, di saat puteri kecil anda sedang memakan sebuah roti, tiba-tiba roti yang berada di genggamannya jatuh ke lantai. Sehingga sebagian roti yang jatuh tersebut nampak kotor terkena lantai dan sebagian lainnya masih baik. Mana yang akan anda lakukan?? Membuang seluruh roti itu atau membuang sebagian yang kotor dan mengambil sebagian yg masih baik?
Tentu jawaban yang paling tepat adalah yang ke dua.

Kawan....
Terkadang ada saudara kita yang sebenarnya baik, cerdas dan brilian, yang kemudian karena bbrpa faktor ia "terpaksa" jatuh ke dalam praktik yang tidak baik, ke lingkungan yang kurang kondusif -dalam hal apapun itu, masalah ekonomi, bisnis, sosial dan agama- kerapkali yang sering kita lakukan adalah menjauhkan, meninggalkan dia dan bahkan tak jarang malah menjatuhkan "lagi".
Bukan malah membantu untuk mengangkat ia kepada kondisi yang baik seperti dulunya, malah ikut serta membuatnya lebih jatuh terpuruk.

Kawan....
Rangkul lah ia, cucilah kotoran yang ada padanya....

Ibarat sebuah mutiara yang berada di kubangan kotoran, cucilah mutiara itu hingga bersih dan berkilau, kemudian simpanlah ia dalam kotak kaca yang megah. Karena bagaimanapun mutiara tetaplah mutiara.....

Jadikan mutiara itu bernilai tinggi kembali, yang membuat siapapu yang melihat akan terpesona dan hendak memilikinya...

JANGAN TAKUT UNTUK HAL YANG BAIK, KAWAN...

Jangan takut kirim tulisan berupa nasehat, hadits atau ayat-ayat al qur'an, kawan...
karena itu adalah sebagian dari tanggung jawab kita untuk saling menasehati, saling menyeru dalam kebenaran. Dan seruan kepada kebenaran adalah sebaik-baik perkataan. Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah.

Jangan takut tulisan kita tidak dibaca, kawan...
karena memang demikianlah Allah menciptakan ladang amal bagi kita. Berapa lama para nabi berdakwah, tidak didengar umat, namun tak pernah menyurutkan semangat.

Jangan takut dikatakan "sok alim" kawan...
Justru banggalah dikatakan alim di kala orang lain bangga dengan kemaksiatan mereka, dari pada dikatakan "urakan". Bangga dengan kealiman kita bukan berarti merasa lebih baik, namun katakan bahwa saya hanya ingin bisa lebih baik.

Jangan takut dikatain sok pinter, sok menggurui, sok tahu, kawan...
Karena memang itu sebuah perintah Tuhan, sebagaimana yg disampaikan oleh Sang Utusan "Sampaikan dariku walau satu ayat".

Jangan takut menerima nasihat dari siapapun, kawan...
meskipun dia datang dari seorang bajingan, selama nasihat berisi kebenaran dan bertujuan untuk kebaikan. Daripada nasihat dari seorang teman yang mengajarkan kepada keburukan. Karena emas tetaplah emas meskipun bercampur di kubangan kotoran. Kotoranpun akan kotoran meskipun berada di tumpukan emas.

Sekali lagi, jangan takut untuk hal yang baik kawan jika jelek mereka berpandangan  tapi justru itu yang akan menyelematkan. ...

ANTARA KAMERA ANALOG DAN KEHIDUPAN


Kawan...
Hidup ini laksana sebuah kamera analog...
Dibutuhkan sebuah keahlian dan kemampuan mengenali lingkungan dalam mengambil objek gambar untuk mendapatkan sebuah hasil jepretan yang menakjubkan, tentang banyaknya cahaya, jauh dekatnya suatu objek, agar hasilnya menjadi maksimal. Begitu pula dalam kehidupan, kemampuan mengenali lingkungan berpengaruh kepada prilaku kita, lingkungan yang baik akan menularkan kepribadian yang baik, bahkan kesuksesan bisa jadi tercipta dari sebuah lingkungan yang tepat. Jikalau anda ingin menjadi orng yang alim, maka bergaul-lah dengan orang alim. Seandainya anda ingin menjadi pengusaha sukses, maka bergaulah dengan pebisnis. 
Kenalilah lingkungan anda...

Kawan...
Bahwa Hidup bagaikan kamera analog...
Sekali gambar itu diambil maka ia tidak dapat di delete layaknya kamera digital.
Kehidupan ini, sejatinya potret dari hari-hari yang telah kita lalui, sekali keputusan kita ambil maka itu menjadi sebuah sejarah dan kenangan. Adakalanya gambar-gambar yang indah dan menakjubkan kita hasilkan, namun tak jarang pula gambar yang kurang memuaskan kita dapatkan. Gambar yang indah adalah hari-hari  yang baik yang telah kita lalui. Pencapaian yang memenuhi target serta keberhasilan dalam segala hal yang membuat hati kita senang dengannya. Sementara gambar yang jelek adalah sebuah kegagalan yang tentu sama sekali tidak kita harapkan. 
Pencapaian yang baik layaknya kita bingkai dalam sebuah bingkai megah nan indah, kita jadikan sebuah pajangan mewah, menjadikan kita termotivasi dikala melihatnya, memberikan kepuasan di saat mengingatnya. 
Sementara Sebuah kegagalan yang telah kita peroleh layaknya kita robek dan buang agar tidak menjadi dalam sebuah bingkai kehidupan yang memilukan.

Kawan...
Kehidupan ini umpama sebuah kamera analog...
Seorang fotografer handal tercipta dari seorang fotografer amatir. Gambar yang baik yg dihasilkan dari sebuah Kamera analog itu tercipta dari tangan-tangan fotografer handal yang syarat akan pengalaman. Kegagalan demi kegagalan telah ia rasakan. Manis getir hasil jepretan telah ia dapatkan. Olehkarenanya pengalaman menjadi sebuah pelajaran yang tak tergantikan. Pengalaman adalah sebuah keniscayaan.  
Pun dalam kehidupan kita, Kesuksesan dan keberhasilan hidup, biasanya tercipta dari sebuah pengalaman yang amat berharga. Jatuh bangun telah menjadi sebuah makanan. Kegagalan terkadang sudah menjadi teman. Sehingga kegagalan menjadi bosan dan kesuksesan yang kita dapatkan. "Experience is the best teacher"


Semoga bermanfaat kawan..

.