Minggu Malam 10 Mei 2015.
Ku antar isteriku ke rumah orang tuaku. Meskipun dokter mengatakan hari perkiraan lahir (HPL) isteriku masih 1 minggu lagi, namun firasatku mengatakan lain, terlebih esok pagi aku harus kerja, jika ia kontraksi secara tiba-tiba di rumah nanti bisa repot, tak ada orang, hanya ia seorang saat ku kerja. Berbeda jika di rumah orang tuaku paling tidak ada yang mengurus dan menemaninya. Aku pun sedikit lega karena keluargaku di rumah lengkap, sehingga ku bisa pulang ke rumah dengan tenang.
Ku baringkan tubuhku selepas ku tunaikan sholat isya, sunah ba'diyah dan 3 rakaat witir. Tak lupa ku bunyikan volume ponselku dengan nada yang paling tinggi, agar ku bisa dengar jika ada telepon darurat menghubungiku.
Aku pun terlelap, hingga tepat pukul 01.30 wib sebuah panggilan masuk membuyarkan semua mimpiku malam itu. Panggilan dari abangku dengan suara yang tenang mengabarkan bahwa isteriku sudah kontraksi dan bergegas untuk segera membawanya ke Rumah Sakit Andhika Ciganjur, Ku di minta jangan khawatir dan langsung menyusul ke rumah sakit.
Ku berusaha tenang dan tidak panik, namun hal itu tak bisa ku sembunyikan. Ku pacu motorku dengan kencang, mulutku tak henti mengucapkan kalam pujian dan doa kepada-Nya. Pukul 3.00 wib ku tiba di rumah sakit. Sudah ada Abang, adik dan temanku menunggu di luar. Ku bergegas menuju ruangan bersalin. Ada 3 sekat dalam satu ruangan itu. Ku jumpai isteriku tepat di sekat yang paling utama, persis di depan pintu masuk. Ku tatap wajahnya yang sudah pucat pasi, namun tetap terlihat sangat tenang. Ku kecup keningnya yang basah dengan keringat. Beruntung ada ibuku yang menemaninya, namun ku tahu ibuku tak kuat melihat darah hingga akhirnya ku yang menggantikannya.
Sesekali ku tengok ke sekat ke dua dan ke tiga saat petugasnya menyingkap gorden pembatas, ternyata mereka sudah setengah hari dan bahkan seharian menantikan kelahiran tapi belum juga keluar. Jeritan mereka membuat hatiku meringis, bulu kuduk merinding dan lututku gemetaran. Tak bisa membayangkan bagaimana mereka mengerang menahan sakit dan berjuang demi lahirnya sang buahan hati pelanjut cerita penerus sejarah.
Ku terus menyemangati isteriku, ku elus-elus belakangnya dan ku bimbing di telinganya untuk terus bershalawat kepada Nabi SAW dan memohon pada Allah untuk di permudah dalam proses persalinan ini. Tak ada rintihan dan tak ada tangisan, hanya kalimah tayyibah yang terus keluar dari lisannya. Ku tak bisa bayangkan apa yang ia rasakan, yang ku tau ia hanya ingin membuatku tidak resah dan takut sehingga ia menahan semua rasa sakitnya.
Ku tanya kepada Bidan yang menangani isteriku, ia sudah pembukaan berapa. Ternyata sudah pembukaan lengkap tidak lama setelah datang, dan sekarang proses lahiran siap dilakukan jika isteriku telah siap. Bidan memberikan arahan kepada iseriku untuk mengambil nafas dan mengeden sekuat tenaga. Akupun membantu memberikan aba-aba 1, 2, 3 tarikan nafas, akhirnya tepat pukul 04.20 wib, Sebuah jeritan tangis seorang bayi perempuan memecah ruangan tepat diiringi adzan subuh. Air mataku pecah, bahagia campur haru tak bisa ku bendung... Ku kecup kening isteriku, dan ku seka air mata yang mengalir di pojok matanya. Syukur kami tak terhingga atas kelahiran buah hati kami yang pertama.
AULIYA ALFIYATUZ ZAHRA, sebuah nama yang ku sematkan padanya. Harapku kelak dia akan menjadi seorang Auliya yang namanya akan selalu wangi laksana seribu bunga. Menjadi belahan jiwa pelanjut cerita penerus sejarah bagi kami.
Dan, 11 Mei 2017 tepat ia berusia 2 tahun. Alhamdulillah kini ia sudah bisa berlari, belajar menghitung dan berbicara. Tumbuh menjadi anak yang periang, sehat dan aktif. Semoga Allah menjadikannya anak yang sholehah...
Doa selalu ku panjatkan :
رب هب لي من الصالحين
ربنا هب لنا من ازواجنا و زرياتنا قرة اعين و اجعلنا للمتقين إماما
Mabruk alfa mabruk
Alaiki mabruk
Mabruk alfa mabruk
Yaum miladik mabruk
Happy milad Anak-ku Auliya Alfiyatuz Zahra, maafkan kami tak ada kado dan tak ada kue untuk hari ini. Hanya Doa dan kasih sayang yang selalu kami curahkan untukmu.
Papah dan Mamahmu,
Zuel Fahmi Al Akbar & Febriana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar