RUMAH KEONG DAN RUMAH KITA



Cengkling… cengkling… cengkling…,
Suara handphoneku berdenting, Ku tengok, ada beberapa pesan whatsapp yang masuk beruntun membuyarkan fikiran.
Ku hentikan jemariku yang sedari tadi mengetik laporan. Ku buka pesan itu, ternyata ada 7 foto masuk yang dikirimkan oleh isteriku, memang sengaja ku atur pesan foto atau video yang masuk tidak terunduh otomastis.

Penasaranku muncul…. Foto pertama langsung ku unduh.
Foto sebuah Cangkang Bekecot (Keong Racun), ya… hanya foto cangkang bekecot.

“Untuk apa foto itu dikirim kalo cuma cangkang bekecot, ngabisin kuota aja”, gumamku dalam hati. Belum selesai ku menaruh hp, masuk pesan dari isteriku

“Pah, Cangkang Bekicot”.
“Aku juga tau”. jawabku hatiku.
“Isinya…. KEONG LAUT, Ku temukan di depan rumah!!” Ucapnya dalam pesan berikutnya.

Ku terkejut penasaran, segera ku unduh gambar berikutnya. Ternyata benar, Seekor keong laut yang biasa ku beli sewaktu ku masih sekolah SD, Keong yang biasa ku gunakan panas nafas dari mulut untuk mengeluarkannya dari cangkang, entah karena panas nafasku atau bau mulutku yang membuatnya keluar. Hihihi…. J

Ku tersenyum dan sejenak berfikir. Kok bisa ya? Itupun yang ditanyakan sama isteriku.

“Pah kok bisa ya??”
“Mungkin karena si keong tertarik sama cangkangnya si bekecot makanya dia pake” jawabku sekenanya.

Bagaimana caranya apakah ditake over, over kredit, tukar guling atau si bekecot dibegal sama si keong laut, entahlah yang jelas si keong laut memakai cangkang bekecot. J

Sahabatku yang baik….
Cerita di atas hanyalah sebuah prolog yang baru saja saya alami, kemudian terlindas dalam fikiran saya tentang sebuah hunian baru sang keong laut. Dalam benak saya, keong laut ini mungkin bosan dengan rumah yang dia pakai selama ini, dia mengidamkan sebuah konsep hunian yang tidak biasa digunakan oleh keong laut umumnya, sehingga dia berfikir keras bagaimana dia keluar dari zona biasa atau umum.

Nah, ketemulah hunian keong bekecot jadi solusi.

Kenapa dia mesti pakai cangkang atau hunian keong bekecot??? Jawabannya adalah kalau dia pakai cangkang kura-kura pasti tidaklah kuat dia bawa. Hihihihi…

Kembali bicara masalah hunian…

Sahabatku yang baik…
Memiliki hunian yang bagus, indah nan megah adalah idaman setiap manusia (bukan cuma keong laut). Mungkin ada di atntara kita yang merencanakan, mendesign, membangun dan menjadikan rumah kita laksana sebuah istana. Hunian dua lantai, dengan pelataran yang dipenuhi tanaman dan taman, kolam renang membujur rapi dibelakang, serta ruang tamu, kamar tidur, kamar mandi serta dapur yang nyaman. Setiap orang pasti akan terkesima melihatnya. It’s amazing kawan……!!!

Sehingga hunian kita selaras dengan moto:

 “Baiti Jannati” Rumahku adalah Surgaku.


Namun, Kawan…. 
Benarkarkah rumah kita sudah seperti surga bagi kita? Atau jangan-jangan hanya layaknya kuburan di mata Allah Azza wa Jalla???
Jangan jadikan rumah kita seperti kuburan. Bagaimanakah rumah yang seperti kuburan itu? Rumah tersebut tidak pernah dikerjakan shalat di dalamnya, baik shalat wajib maupun sunnah. Rumah tersebut selalu lalai dari bacaan Al Qur’an. Itulah rumah yang seperti kuburan. Megah hanya bangunan, Mewah hanya hiasan. Namun di mata Allah sungguh rumah itu hanya sebuah kuburan.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِى تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ

Janganalah jadikan rumah kalian seperti kuburan karena setan itu lari dari rumah yang didalamnya dibacakan surat Al Baqarah.” (HR. Muslim)

Sahabat Anas ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah memerintahkan kita untuk menerangi rumah kita dengan membaca Al-Qur’an.
نَوِّرُوْا بُيُوْتَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ

Hendaklah kamu beri nur (cahaya) rumahmu dengan shalat (sunnah) dan membaca Al-Qur’an. (HR Baihaqi)


Maka…
Jadikanlah rumah kita megah nan Indah, yang disinari dengan cahaya al-qur’an, yang di dalamnya selalu dijadikan tempat sholat dan berzikir. Yang senantiasa akan memberikan rahmat dan kebaikan bagi kita yang menghuninya.


Amiin…..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar