SANG BILAL DARI BUMI NUU WAAR

Pancaran sinar sang surya, tampak malu-malu untuk menembus jalan- jalan kota, tidak seperti biasanya, panas tak menyengat memekakan mata. Namun langit hari ini nampak teduh dan berawan. Tiupan angin seakan memeluk daun-daun yang melambai dan menghembuskan udara yang menyejukkan.

Langkahku penuh semangat menuju sebuah tempat peraduan, bukan untuk melantunkan panggilan Adzan di Masjid Al Muamalah yang biasa ku lakukan, Namun kali ini, semangatku muncul karena ada rasa kerinduan yang tak tertahankan. Rindu kepada seseorang yang sejak lama ku nantikan dan selama ini hanya dalam angan karena jauh dalam jangkauan.
Dialah seorang tokoh perubahan, tokoh yang ku anggap seperti seorang Bilal Bin Rabbah yang datang datang dari bagian Timur Negeri Ini.

Dialah Ustad Fadzlan Garamatan yang telah mengislamkan sekitar 220 suku di papua dengan berdakwah ke daerah pelosok Desa di Bumi Nuu Waar (Papua). Ya, seorang yang begitu ku kagumi dan ku baca kisah dan beografinya melalui harian republika. Beliau hadir untuk memberikan khutbah di masjid Al-Muamalah Bank Muamalat Indonesia tercinta.

Ku pacu langkahku dan mencari shaf-shaf yang mulai dipenuhi oleh jama'ah shalat Jum'at. Ku'ambil posisi di depan Khotib, tepat di baris ke tiga agar ku bisa menatapnya lebih leluasa.

Seorang berbadan tegap, berkulit legam dengan dipenuhi bulu lebat di sekitar janggutnya, duduk bersimpuh di shaf pertama. Yakinku, dialah saudara seimanku, yang Allah telah berikan kehormatan dan pengetahuan, Ustad Fadlan Garamatan.

Masih di Shaf yang sama tepat berada di sampingnya Seorang ulama Panutan yang sudah tidak asing bagiku, Ustad Arifin Ilham menemaninya. Ya Allah, dua orang yang mulia sungguh berada di antara kami, bersilaturami menjalin komunikasi, saling berbagi dan menasihati agar tetap menjadi pribadi yang islami.

*********

Waktu adzan telah tiba, Ustad Fadlan pun memulai khutbahnya, suara lantang dan fasih dengan nada kental ala Bumi Papua keluar dari lisannya yang penuh sajak nan menawan menggetarkan hati. Ku tatap wajahnya yang selalu menyunggingkan senyum merona. Namun seketika ia membawa fikiranku menerawang jauh tentang seorang Sahabat Rosulullah, Sang Muadzin Billah Bin Rabbah, salah satu sahabat yang paling Ku Kagumi yang memiliki suara indah nan merdu. Sahabat yang setiap kali ku baca riwayatnya selalu membuatku meneteskan air mata akan perjuangannya. Terlebih ketika beliau menyatakan untuk tidak lagi adzan sepeninggalan rosulullah saw karena ketidak-kuasaannya bila mengingat kenangan-kenangan indah berjamaah bersama Rosulullah saw. Tak terasa air mata membasahi pipiku, Aku pun menangis, terus menangis di tengah khutbah Ustad Fadlan yang membuat orang terkesima tentang "Keadilan di Negeri ini". Ku masih membayangkan kedua pejuang islam ini. Perjuangan, dedikasi serta integritas terhadap agama ini sungguh sangat memmbuat siapapun terkagum-kagum dan iri dibuatnya.

Jika Sayyidina Bilal pernah disiksa bahkan hampir di bunuh oleh kaum kafir Quraish, demikian juga Ustad Fadlan dalam dakwahnya. Tombak, panah, diusir, adalah hal yang biasa menimpanya. Namun beliau selalu sampaikan kepada murid-muridnya agar tombak itu dijadikan shiraathal-mustaqiim. Kalau dipenjara, jadikan itu sebagai rumah surga awal. Jika difitnah, itu adalah untaian hidup dan puisi barunya. Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam saja dilempari, dicaci-maki, difitnah, tapi beliau terus menebarkan senyum ucapnya, Subhanallah!

Hingga sampai Ku larut dalam doanya, ku masih meneteskan air mata.

Ya Rabb, berikanlah kekuatan, kesehatan serta keistiqmahan kepada ulama-ulama kami agar mereka terus bisa mengajarkan kami, menasihati kami dan menunjukan kami senantiasa di dalam  ajaran-Mu. Jagalah rasa cinta kami kepadaMu, Jaga cinta kami kepada-Nya, agar kami dapat menapaki hidup ini dalam jalan lurus-Mu.

Aamiin.

Al Faqir - Zuel Fahmi Musa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar